<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7174401</id><updated>2011-04-21T16:17:17.701-07:00</updated><title type='text'>Cherie in the Wonderland</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritacherie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritacherie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>thirteen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7174401.post-109869061646505740</id><published>2004-10-25T01:46:00.000-07:00</published><updated>2004-10-25T00:57:25.553-07:00</updated><title type='text'>yang tak termiliki...</title><content type='html'>Untuk kesekian kalinya Livvy menghela nafas. Panjang. Seakan berusaha menebah kesesakan yang ada di dalam dada. hhhhhhhhhhhhhh ... andai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sebulan ini, Liv." &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kata itu cukup menorehkan perih di hati Liv. Entah kenapa. Mestinya semua itu tidak terjadi. Toh, Bimo bukan miliknya lagi. Bukan milik siapa-siapa, persis seperti dirinya sendiri. Sejak sebulan lalu. Sejak mereka sepakat untuk kembali memiliki hati mereka masing-masing. Memutuskan ikatan yang tadinya menyatukan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini Liv menyadari sesosok bayangan telah masuk mengisi hati Bimo. Dan itu menyakitkan.  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7174401-109869061646505740?l=ceritacherie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritacherie.blogspot.com/feeds/109869061646505740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7174401&amp;postID=109869061646505740' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default/109869061646505740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default/109869061646505740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritacherie.blogspot.com/2004/10/yang-tak-termiliki.html' title='yang tak termiliki...'/><author><name>thirteen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7174401.post-108657185114095469</id><published>2004-06-06T18:27:00.000-07:00</published><updated>2004-06-09T19:37:30.150-07:00</updated><title type='text'>buatmu ...</title><content type='html'>&lt;em&gt;'Jadi kamu lebih memilih laki-laki yang menganggapmu cantik tapi kamu ada di urutan ke 37 didalam hatinya?'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Ngga lah. Hell no'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Nah itu dia, buatku sih tampang bukan yang utama. Aku lebih percaya hati'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Tapi kan pas pertama kali kamu liat perempuan, pasti yang kamu liat tampangnya?'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Iya sih. Makanya aku ngga gitu percaya ama cinta pada pandangan pertama'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaya menggelengkan kepalanya. Untuk kebeberapakalinya. Seakan mencoba menggebah sesuatu yang tidak kasat mata. Sungguh potret pernikahan terburam yang pernah dia lihat. Dengan pengantin wanitanya terlihat menangis. Bukan, bukan menangis karena bahagia sebagaimana mempelai wanita biasanya. Menangis yang menangis. Jeritan kesedihan dalam bentuk air mata. Vaya menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup selalu terasa sangat mudah buat Vaya. Lahir dari keluarga yang berkecukupan. Anak tunggal. Sekolah di sekolah berstandar internasional. Lulus. Pekerjaan yang menyenangkan di perusahaan keluarga menunggu. Lalu Eka masuk kedalam kehidupannya. Laki-laki yang juga menikmati hidup mudah seperti yang dirasakan Vaya. Semua seperti dongeng. Putri cantik dan pangerannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi meskipun sangat membahagiakan, kabar mengenai rencana pernikahan mereka tidaklah terlalu mengejutkan. Karena sudah semestinya. Sebagai klimaks yang indah dari hal-hal indah lainnya yang dinikmati mereka berdua dari detik pertama mereka membuat mata dan melihat dunia. So that they can happily live ever after. Persis seperti buku-buku dongeng yang dibaca Vaya di masa kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya Vaya merasa gamang. Entah kenapa. Cincin bermata berlian yang diberikan Eka untuknya terasa mencengkeram. Hatinya terasa sesak. Semua ini terasa terlalu mudah. Terlalu indah. Hingga menakutkan. Vaya menghela nafas panjang. Belum pernah dia merasakan perasaan seperti itu hingga ia bertemu … Banyu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyu. Laki-laki yang dikenalnya di acara reuni SMAnya. Fotografer yang dipercaya panitia reuni untuk mengabadikan segala euphoria dan ekstasi kebahagiaan mereka bertemu teman lama. Laki-laki yang terlihat tidak pas berada diantara segala kemewahan pesta reuni mereka. Dengan pakaian serba hitam Banyu terlihat begitu sendiri di antara kemeriahan warna gaun pesta para tamu. Tapi Vaya tahu laki-laki itu telah mencuri hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi laki-laki itu sungguh tidak mudah didekati. Perkenalan mereka hanyalah tangan Vaya menjabat tangan dingin Banyu. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak ada percakapan hangat sebagaimana dua orang yang baru berkenalan. Kedua tangan mereka terlepas. Banyu kembali ke dunianya sendiri. Dan Vaya merasa kehilangan sesuatu. Entah apa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian semuanya terasa terkubur oleh keriuhrendahan persiapan pernikahannya dengan Eka. Pernikahan yang begitu dinantikan semuanya. Semua ingin ikut memastikan bahwa pernikahan mereka akan menjadi satu pesta pernikahan yang tidak akan terlupakan. Pernikahan yang yang baru akan digelar tahun depan. Akan tetapi sudah menciptakan kesibukan yang demikian luar biasa bagi keluarga Eka dan Vaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaya ikut berbahagia melihat sinar yang terpancar dari muka kedua orangtuanya dan orangtua Eka. Tapi dia tahu ada yang salah dengan hatinya. Kebahagiaan yang dia rasakan terasa semu. Palsu. Hatinya sedang rusuh terganggu. Dan Vaya tahu jawabnya ada pada Banyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kata orang jarak menciptakan rindu. Menciptakan gelenyar damba yang menggetarkan sukma. Vaya harus akui itu. Deburan jantungnya tiap kali bayangan Banyu melintas di depan matanya. Sungguh Vaya menginginkan laki-laki itu. Tapi patutkan hal itu? Dia yang akan segera menikah, merindukan laki-laki lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia. Akhir-akhir ini bahagia menjadi satu kata yang begitu asing di telinga Vaya. Semua kesenangan, ketersediaan yang mengelilingi dirinya tidak menciptakan bahagia. Dan Vaya ingin merasa bahagia. Menggebah semua perasaan, yang entah apa, yang sedang melingkupi dirinya. Kalau bahagia itu ada pada Banyu, salahkah dia merindukan laki-laki itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyu. Vaya tidak tahu apa yang membuatnya tertarik dengan Banyu. Sungguh tidak tahu. Tapi nama laki-laki itu berulang-ulang muncul di benaknya. Hampir terdengar seperti mantra di hatinya. Vaya tahu dia harus melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Dinda, boleh aku tahu gimana caranya menghubungi fotografer yang meliput reuni kita dulu?’&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Of course my darling, mau bikin acara ya? Good for you untuk memilih Banyu. Fotografer yang hebat. Sebentar ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer telepon Banyu sudah di tangan. Tapi Vaya masih berkontemplasi apa yang sebenarnya dia inginkan. Berkenalan dengan Banyu. Mencari tahu soal laki-laki itu. Atau ..? Yang Vaya tahu dia tidak suka merasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Bisa saya berbicara dengan Bapak Banyu?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Saya sendiri. Dengan siapa saya berbicara?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Saya Vaya. Saya memerlukan bantuan Bapak untuk membuat foto-foto untuk port folio perusahaan saya. Bisakah kita bertemu untuk membicarakannya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu saja janji tercipta. Pertemuan untuk membicarakan port folio perusahaan. Dan memuaskan penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Panggil saya Banyu’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kalo begitu kamu bisa memanggilku Vaya’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Vaya’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Banyu. Oke Banyu.’&lt;/em&gt; dan mereka berjabat tangan. Sepercik bahagia tercipta di hati Vaya. Dan muncul sebagai senyuman di bibir merahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pertemuan-pertemuan berikutnyapun tercipta. Masih berhubungan dengan pekerjaan tapi Vaya semakin tahu bahwa Banyu adalah laki-laki yang dia impikan. Yang dia impikan. Bukan yang sesuai dengan impian orangtuanya atau sesuai dengan impian yang diciptakan orang tuanya di dalam benaknya. Vaya menyimpan setiap kenangan pertemuannya dengan Banyu di satu sisi hatinya. Sisi hati yang mengenal bahagia. Hmmm …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaya semakin menyadari bahwa hampir sebagian besar jalan hidupnya berjalan begitu mudah hingga dia tidak pernah merasa perlu berhenti dan mengucap syukur. Semua terasa sudah semestinya. Sudah semestinya ada. Tapi keakrabannya dengan Banyu membawa perspektif yang lain dalam hidupnya. Bahwa bahagia tidak bergantung pada materi, kemewahan, ketersediaan yang selama ini melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaya masih ingat jelas tertawa lebar anak jalanan yang bahagia mendapatkan pelajaran di ruangan kelas sederhana. Salah satu hal indah yang diperkenalkan Banyu padanya. Bahwa hanya orang yang mampu bersyukurlah yang dapat merasakan bahagia. Vaya tahu selama ini dia telah menikmati begitu saja semua yang dia punya tanpa pernah benar-benar memaknai semuanya. Dan hatinya semakin terjerat. Tersipu karena pandangan mata Banyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mereka semakin dekat. Bahkan saat proyek pembuatan port folio terselesaikan. Pertemanan. Begitu Vaya menyebutnya. Walaupun jelas itu bukan yang diinginkannya. Tapi paling tidak Vaya bisa menikmati banyak hal bersama Banyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Asyik ya?’&lt;/em&gt; kata Banyu yang duduk disampingnya, &lt;em&gt;‘Mereka tidak khawatir air kotor itu akan membawa segala kuman penyakit, yang mereka tahu mereka sedang menikmati kegembiraan.’&lt;/em&gt; Saat itu mereka berdua sedang duduk di tepian kali kotor memandangi anak-anak kecil yang asyik berenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaya melayangkan pandangannya kekali berair kotor di depannya. Ini adalah perjalanan kesekian yang dia lewati bersama Banyu. Menikmati pemandangan yang selama ini terlewatkan oleh mata Vaya. Dengan Banyu, Vaya belajar mengenai hidup. Bahwa tidak semua orang memiliki segalanya seperti dirinya. Dan yang terpenting belajar tentang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari tawa riang anak-anak yang berenang di kali berair kotor. Gelak tawa dua anak kecil yang berdiri di dalam gerobak sampah yang ditarik sang ayah. Senyum malu-malu seorang anak kecil di gendongan ibu yang berjualan di pinggir jalan. Dan Vaya berbahagia bersama mereka. Vaya mulai mengenal arti bahagia. Satu kata yang selama ini dia kenal melalui banyak hal yang dia punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bersambung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(in a loving memory of a friend I miss so dearly)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7174401-108657185114095469?l=ceritacherie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritacherie.blogspot.com/feeds/108657185114095469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7174401&amp;postID=108657185114095469' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default/108657185114095469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default/108657185114095469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritacherie.blogspot.com/2004/06/buatmu.html' title='buatmu ...'/><author><name>thirteen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7174401.post-108607932173608361</id><published>2004-06-01T01:39:00.000-07:00</published><updated>2004-06-04T21:41:15.733-07:00</updated><title type='text'>dia yang memanggilku cinta ...</title><content type='html'>Apa kabar Cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya tiga kata dan sebuah tanda tanya yang tertulis di kartu kecil yang menyertai setangkai mawar merah yang tergeletak di meja kerjanya. Kata &lt;a href="http://www.ntsearch.com/search.php?q=office&amp;v=56"&gt;office&lt;/a&gt; boy kantornya bunga itu diantarkan oleh jasa pengantaran toko bunga. Tapi tanpa diberitahupun Liv sudah  tahu siapa pengirimnya, hanya ada satu orang yang memanggilnya cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Semua terserah kamu Cinta’ &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pendek Tristan itu membuatnya terhenyak. Tanpa tahu harus menjawab apa. Memang semua ini sedikit banyak kesalahannya. Membiarkan terlalu banyak celah terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kejenuhan hubungannya dengan Bimo yang sudah berjalan lima tahunlah yang membuat Liv mulai intense berkomunikasi dengan beberapa teman lamanya. Dan Bimo, sebagaimana Bimo adanya, terlalu percaya bahwa tidak akan ada yang dapat menggoyahkan hubungan mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini Bimo salah. Hati Liv sedikit banyak terganggu dengan kehadiran teman lamanya Tristan. Rasanya semua menjadi hampa ketika sehari saja Tristan tidak menyapanya. Dan kesalahan berikutnya yang dilakukan Liv adalah memupuk perasaan tak berdayanya itu dengan tetap berhubungan dengan Tristan dan bersembunyi di balik alasan menjalin hubungan pertemanan yang selama ini terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Pilihannya ada padamu. Apapun yang membuatmu bahagia Cinta’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Tapi …’ &lt;/em&gt;kalimat Liv terputus dengan tatapan penuh rasa cinta dari sepasang mata tajam Tristan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Apapun yang membuatmu bahagia Cinta. Aku akan berbahagia untukmu. Pilihannya ada padamu’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu yang bisa dilakukan Liv saat itu. Menangis. Menangis karena merasa tidak berdaya. Di depan laki-laki yang begitu dia cintai. Rengkuhan hangat dari Tristan hanya membuat airmatanya semakin deras mengalir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari-hari berikutnya berjalan dengan sangat lambat. Liv kehilangan semua semangat hidupnya. Semua perhatian Bimo hanya sedikit melegakan hatinya. Semakin kecewa karena Bimo tidak cukup sensitif bahwa semua perubahan sikap Liv yang seakan kehilangan semua keceriaannya bukan sekedar disebabkan oleh kesibukan pekerjaan sebagaimana yang selalu dikatakan Liv. Tapi tidak ada yang bisa dia keluhkan dari sikap Bimo. Bimo masih saja seorang kekasih yang baik dan penuh perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari-haripun berjalan. Bulan demi bulan. Ingatannya kepada laki-laki yang memanggilnya Cinta mengendap ke dasar hati. Hingga hari ini. Saat dia menemukan setangkai mawar merah di meja kerjanya. Dan pertahanannya kembali porak poranda. Ingatannya melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Liv kan? Liv yang rambutnya panjang kan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu Liv dikagetkan dengan &lt;a href="http://www.ntsearch.com/search.php?q=email&amp;v=56"&gt;email&lt;/a&gt; yang cuma berisi 2 kalimat tanya pendek itu. Mmm … alamat emailnya tidak begitu familiar. Tapi entah kenapa tangan Liv dengan cepat memencet tuts reply,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Iya. Liv disini. Siapa disitu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah semua dimulai. Dari &lt;a href="http://www.ntsearch.com/search.php?q=email&amp;v=56"&gt;email&lt;/a&gt; pendek ke komunikasi yang intens melalui jalur chatting di dunia maya. Mmm … Tristan. Teman lama dari masa-masa indahnya di sma. Tak terasa Liv mulai menggambar seraut wajah dari masa lalu di dalam benaknya. Raut wajah Tristan. Hhhh …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ding.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv, sibuk?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga terlalu. Kenapa?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga. Kok aku tiba-tiba kangen kamu ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kangen? Lucu kamu! Kok tiba-tiba kangen? Kena angin apa?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga tahu nih. Tahu-tahu kangen’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv menghela nafas dalam. Perasaan yang sama terasa di dadanya. Kangen. Awalnya Liv berusaha untuk mengusir semua. Mencari pembenaran bahwa itu semua ekstasi dari pertemuan dengan teman lama. Tapi entah kenapa semakin kuat terasa. Mencengkeram. Tak mau pergi. Dari dalam hati. Kangen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Hehehe … oiya sekarang kamu dimana?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Masih didunia yang indah ini Liv’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Haaaa? Gila kamu! Maksudku kamu tinggal dimana?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Nah itu dia Liv. Nggak jelas. Pekerjaanku membawaku kemana-mana. Sampai aku tidak bisa menyebut satu nama kota sebagai domisiliku. Aneh ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga aneh sih. Malah kayaknya seru. Eh, emang kamu kerja apaan?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kerja untuk tetap hidup Liv’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tetap Tristan yang Liv kenal dulu. Misterius. Tapi anehnya kemisteriusannya semakin membuat Liv suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Mmm … sounds mysterious. Tapi kayaknya asik hidupmu. Eh, by the way gimana kok bisa dapet &lt;a href="http://www.ntsearch.com/search.php?q=email&amp;v=56"&gt;email&lt;/a&gt; addressku?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ada. Dari sumber yang terpercaya. Hahaha … dari Felix, Liv. Kamu masih inget Felix ngga?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitu caranya dia mendapatkan &lt;a href="http://www.ntsearch.com/search.php?q=email&amp;v=56"&gt;email&lt;/a&gt; address Liv. Menghela nafas lagi. Terasa sesak. Sekelebat terasa perasaan yang dulu pernah tersimpan di antara keriuhan canda putih abu. Tristan yang pendiam. Misterius. Dan yang berhasil mencuri hatinya. Tristan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perjumpaan dunia maya mereka semakin terasa bermakna. Melalui percakapan tentang segala macam hal. Dari warung bakso di sma sampai ke situasi politik negara yang semakin membuat apatis. Percakapan-percakapan yang membuat hati Liv semakin terperosok ke dalam sesuatu yang Liv sendiri tidak mengerti. Hanya saja semua terasa hampa dan sepi saat tidak ada kata-kata yang terkirim dari manapun saat itu Tristan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ding.&lt;br /&gt;‘Selamat pagi Cinta’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan selamat pagi yang muncul di jendela monitornya membuat senyum tercipta di bibir Liv. Entah kenapa akhir-akhir ini Tristan selalu saja menyapanya dengan Cinta. Anehnya lagi Liv suka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Selamat pagi’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mmm … mimpi aku semalam?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar Liv tertawa kecil dengan pertanyaan Tristan tersebut. Terasa geletar hangat menyusup ke dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Nggak lah. Udah lama nggak pernah mimpi buruk tuh’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv bisa membayangkan Tristan tertawa di ujung sana. Dan imajinasinya itu sekali lagi mengirimkan geletar hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Rasanya aku ingin kesitu dan memelukmu Cinta. Kamu itu lucu sekali’ &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Waks jangan main peluk dong. Ntar ada yang marah lho’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Siapa? Pacar kamu ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan Cinta melayang ke Bimo. Bimo yang selalu terlihat dewasa dan penuh pengertian. Belum pernah sekalipun Liv melihat Bimo kehilangan kendali. Selalu terlihat tenang. Dan justru itulah yang membuat Liv jatuh cinta kepada Bimo. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini semua itu malah terasa membuat hubungan mereka menjadi hambar. Terasa tanpa letupan. Semua terlihat baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kalo iya gimana? Eh atau malah ntar pacar kamu yang marah?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Lho pacar aku kan kamu’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Yeeee…’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kok yeee? Cinta mau nggak jadi pacar aku?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Hahahahahaha … ngga usah ngelucu ah. Yang lucu boleh pulang’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan mereka melalui jalur &lt;a href="http://www.ntsearch.com/search.php?q=internet&amp;v=56"&gt;internet&lt;/a&gt; berakhir hari itu. Liv harus menghadiri rapat internal di departemennya. Tapi komunikasi mereka tidak berhenti disitu. Hari demi hari percakapan terjalin. Seakan tidak pernah kehilangan topik pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Cinta, kok kamu tidak pernah kasi lihat foto cowokmu ke aku?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Hehehe … ada banyak soalnya’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ha? Ada banyak?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Iya … kalo dikasi liat semua ntar kamu bisa pingsan’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘O … gitu ya?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ya gitu deh’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Mmm … aku harus cari yang lain ya Cinta?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Iyalah. Kalau nunggu aku giliranmu masih lama hehehehe … ‘&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Gitu ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Iyalah’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kalau gitu aku cari yang mau sama aku aja ah’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Lho kok jadi pasrah?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ya ngga pasrahlah. Abis Cinta ngga mau’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga mau? Ngga mau apa?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Nah itu tadi jawaban Cinta nyuruh aku cari yang lain’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Lho, emang tadi Tristan tanya apa?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aliran dingin menelusup ke dinding hati Liv. Seharusnya Liv segera tersadar kearah mana semua percakapan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Cinta mau ngga jadi pacar aku? Dan jawaban Cinta sudah aku dengar jelas. Aku harus cari yang lain kan?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Lho emang kamu tadi tanya gitu? Kapan?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Cintaaaaaaaa … kamu kemana aja sih? Iya tadi aku tanya gitu dan aku udah dengar jawabanmu loud and clear’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Tristan, kok aku jadi merasa kamu serius dengan semua ucapanmu? Kamu bercanda kan?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Dari tadi sampai sekarang aku serius Cinta. Aku tidak pernah main-main dengan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan.’ &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Tapi bagaimana bisa? Kita kan tidak pernah ketemu? Berapa tahun coba? Hampir 15 tahun Tristan! Jangan bercanda’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja begitu. Percakapan penuh canda tercipta diantara mereka berdua. Dan Liv tidak menyadari hingga semua menjadi terlambat. Dan yang ada hanya penyesalan. Liv kehilangan Tristan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Cinta, kamu percaya nggak cinta bisa menjembatani banyak hal termasuk perbedaan ruang dan waktu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Mmm … antara percaya nggak percaya sih. Memang kenapa sih? Kok pagi-pagi udah bicara cinta?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga sih. Eh Cinta sibuk ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kalo sibuk emang kenapa? Hayo mau curhat ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ngga sih. Takut ngeganggu aja. Males ah curhat ama kamu’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Lho kok males? Emang kenapa?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kalo curhatnya face to face sih boleh aja. Biar bisa sambil peluk Cinta. Hehehehe …’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ya ampun pagi-pagi dah sok romantis gitu. Beneran lagi jatuh cinta ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Iya nih. Sayang dia jauh’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Dia yang jauh atau kamu yang asyik menjauh?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa ada sudut hati Liv yang merasa pedih karena percakapan itu. Tristan jatuh cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv, kok diam? Sibuk ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv menenangkan serangan badai dalam hatinya. Terdiam. Merasa sesak. Menarik nafaspun seakan menjadi suatu pekerjaan maha berat. Tristan jatuh cinta. Apa yang terjadi? Kenapa semua ini terasa berat? Disaat seperti ini Liv merindukan aliran ketenangan dari Bimo. Tapi apakah Bimo akan mengerti bahwa ada laki-laki lain yang berhasil mencuri hati Liv? Menguasai setiap jengkal alam pikiran Liv. Setiap detik. Di setiap kerjapan mata. Hanya ada Tristan disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Oops, sori. Aku musti pergi meeting sekarang. Besok kita sambung lagi ya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu saja Liv melarikan diri dari realita. Semua terasa berat. Bimo. Tristan. Hatinya. Milik siapakah hatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepagian ini Liv disibukkan oleh begitu banyak pekerjaan. Namun tetap saja satu sisi pikirannya melayang ke Tristan … Sedang apa dia sekarang? Kenapa belum ada sapaan pagi ini? Liv merasa rindu. Ditebahnya pikiran itu dari pikirannya. Namun tetap saja tidak mau pergi. Liv menyerah. Membiarkan angannya tentang Tristan berkelana. Mengingat percakapannya dengan Tristan beberapa hari yang lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ding&lt;br /&gt;‘Liv? Are you there?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang melonjak di dalam hati Liv. Akhirnya. Sapaan yang dia rindukan. Tetapi kenapa Tristan tidak memanggilnya Cinta pagi ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Hi. Selamat pagi juga! Dimana kamu pagi ini?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Masih menikmati dunia yang indah, Cinta’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dia masih memanggilnya Cinta. Liv menghela nafas panjang. Terasa lega. Entah kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Good for you. So apa kabar?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Baik. Cinta?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Baik’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Cinta, soal kemarin. Menurutmu cinta harusnya memiliki atau membebaskan?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti aku ingin memilikimu Tristan. Tapi hatiku, paling tidak diriku, dimiliki Bimo saat ini. Dan aku tidak ingin menyakiti orang yang begitu mengasihiku. Pikiran Liv melayang ke Bimo. Entah kenapa akhir-akhir ini hubungannya dengan Bimo terasa semakin datar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua memang telihat baik-baik saja. Tapi Liv tidak buta. Ada yang salah dalam hubungan mereka. Seperti ada letupan yang hilang. Rasanya api yang menghangatkan mereka sedikit padam. Dan Liv merasa bersalah. Dan kesal karena tidak tahu harus berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘mmm … pertanyaan yang berat. Terus terang aku tidak punya jawabannya. Kenapa?’&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv, kali ini aku benar-benar fall for her. Aku ingin memilikinya. Tapi katanya cinta itu seharusnya membebaskan. Aku bingung dan takut. Aku tidak ingin kehilangan dia’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntungnya perempuan itu pikir Liv. Dicintai begitu dalam. Hingga Tristan terombang-ambing sendiri oleh pikirannya antara ingin memiliki dan membebaskan. Kenapa semua ini terasa berat buat Liv? Kenapa? Apakah dia sendiri sudah jatuh cinta? Tapi apakah mungkin dia jatuh cinta kepada dua orang sekaligus? Masih cintakah dia dengan Bimo? Atau apakah masih cinta yang menyatukannya dengan Bimo? Liv menarik nafas dalam. Merasa sesak. Tercekik oleh pikiran-pikirannya. Tristan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Mmm … kamu sudah kasi tahu dia kalau kamu jatuh cinta padanya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Belum. Haruskah aku katakan kepadanya saat aku sendiri masih takut kehilangan dia jika semua ini hanya teriakan yang tidak akan memantulkan gema? Aku takut Liv, takut kehilangan dia’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Lho ya jangan gitu dong. Jangan pesimis. Kalo memang kamu suka, ya perjuangin dong. Jangan kalah sebelum berperang'&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv merasa begitu munafik. Karena sisi hatinya ingin berteriak. Jangan. Jangan katakan kau mencintainya. Jangan. Aku, aku yang mencintaimu. Tristan, jangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Tristan … mmm … boleh tahu kamu lagi jatuh cinta sama siapa?’ Liv merasa sungguh munafik. Dan pengecut.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Sama kamu Cinta’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma tiga kata. Terasa membekukan segalanya. Liv terdiam. Lebih tepat beku. Kehilangan semua akal. Liv tidak tahu haruskah ia tertawa atau menangis. Laki-laki yang diam-diam telah merebut hatinya memantulkan suara yang ingin ia kembalikan dalam bentuk gema. Ya aku mencintaimu juga. Tapi bagaimana mungkin. Bagaimana dengan Bimo? Adilkah ini untuk Bimo? Tapi ini juga terasa tidak adil untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ding&lt;br /&gt;'Cinta?'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kamu bercanda kan Tristan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang keluar dari kerisauan yang sangat dalam. Sangat dalam. Sedalam apapun keinginan Liv untuk mempercayai setiap kata yang terucap tapi ini semua terasa membingungkannya. Bimo. Tristan. Kenapa harus terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Aku hanya menuruti kata hatiku saja Cinta. Aku mempunyai perasaan yang lebih buatmu. Mungkin memang cinta belum sepenuhnya tumbuh saat ini tapi aku mau kita memulainya berdua hingga cinta itu tumbuh diantara kita’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv terhenyak. Sungguh tidak menyangka begini jadinya. Munafik kalo Liv berkata semua ini tidak berarti buatnya. Karena ada satu rasa yang menyelusup di dinding batinnya. Rasa yang lebih untuk Tristan. Terasa seperti de ja vu. Seperti yang dulu, kembali. Seperti burung yang sudah terbang jauh, kembali ke kehangatan sarang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ingatan Liv melayang ke Bimo. Kekasihnya yang begitu mengasihinya. Begitu dewasa menyikapi segala hal. Begitu penuh pengertian memberi kebebasan ruang gerak bagi Liv untuk mengejar mimpi-mimpinya. Mimpi-mimpi yang bahkan orangtuanya sendiri tidak bisa pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv, apalagi yang kamu tunggu. Papa mama sudah rindu menimang cucu. Kamu anak kami satu-satunya. Cuma kamu harapan kami’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja harapan orangtuanya membawa kepedihan ke hati Liv. Bukan salah mereka. Wajar mereka berharap untuk segera menimang cucu. Hampir semua kolega papanya sudah memiliki cucu bahkan ada yang sudah memiliki beberapa cucu. Tapi tetap saja hati Liv tidak tergerak untuk segera membawa hubungannya dengan Bimo ke jenjang pernikahan. Entah kenapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Bimo dengan segala kedewasaan dan pengertiannya, tidak pernah membebani Liv dengan membicarakan desakan-desakan dari orangtua Liv maupun Bimo sendiri. Selalu begitu. Selalu menimpakan kesalahan ke dirinya sendiri dengan alasan kesibukan di kantor yang belum dapat ditinggalkan. Selalu begitu mengerti Liv. Dan Liv terisak di dalam hati. Bagaimana dia bisa memberikan satu sisi ruang hatinya untuk Tristan. Sedangkan Bimo begitu mengasihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Pilihanmu Cinta. Kalau kamu bahagia, aku akan bahagia. Kalau hanya salah satu yang bahagia, mungkin memang lebih baik kita tidak memulainya’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejenak Liv tahu apa yang harus diputuskannya. Keputusan paling munafik yang pernah dia ambil. Semuanya atas nama cinta. Paling tidak itu yang dia kira. Sesakit apapun konsekuensinya. Liv siap. Paling tidak berusaha untuk siap tidak menyesalinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pagi ini setangkai bunga mawar merah mengguncangkan kehidupannya. Saat untuk membayangkannya saja Liv tidak mampu. Terkubur sudah dengan susah payah semua kenangannya tentang Tristan. Dan Liv sudah berdamai dengan penyesalannya. Penyesalan kenapa dulu mengambil keputusan untuk berlari menjauh. Menjauh dari Tristan. Dan juga Bimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya sungguh tidak mampu memilih. Bukan Tristan. Dan tidak juga Bimo. Seberdarah apapun hatinya saat itu, Liv tidak mampu untuk memilih salah satu dari mereka. Dua laki-laki yang dia cintai. Dengan intensitas yang sama. Well paling tidak Liv tidak ingin melukai keduanya dengan memilih salah satu. Meski Tristan tidak tahu tentang Bimo yang menguasai hatinya terlebih dahulu. Dan juga Bimo yang tidak menyadari ada yang merindukan Liv dari satu ruang waktu yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang heran dengan keputusannya. Orangtuanya. Orangtua Bimo. Bimo. Teman-teman mereka berdua. Bertanya-tanya atas keputusan yang Liv ambil. Dan Tristan tidak usah ditanya. Tristan yang memilih untuk pergi. Entah kemana. Tidak ada lagi laki-laki yang memanggilnya cinta. Hingga pagi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga tahun. Tepat tiga tahun. Liv sudah mulai berdamai dengan hatinya. Bahkan orangtuanya pun sudah jarang bertanya. Mungkin sudah rela. Atau pasrah. Atau apapun demi kebahagiaan Liv. Tapi Liv tidak bahagia. Tapi tidak juga terlalu sedih. Paling tidak dia berusaha untuk tidak sedih. Berusaha untuk kuat. Atas keputusan paling munafik yang dia pernah ambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Liv lebih memilih menjadi orang yang munafik daripada harus menyakiti orang yang dia cintai. Tentu saja Bimo terluka atas keputusannya. Bertanya-tanya. Tapi paling tidak, pikir Liv, dia tidak terluka karena dihianati. Meski di lubuk hati Liv merasa menghianati. Pernah membiarkan hatinya dikuasai oleh seorang laki-lain lain. Laki-laki yang memanggilnya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Bimo, Liv mengambil jalan menusukkan belati ke diri supaya dia bisa berhenti menangis dan menjadi lebih kuat setelahnya. Dengan Tristan. Rasa bersalah terasa lebih membunuh. Liv merasa bersalah telah memberikan harapan-harapan manis. Harapan-harapan yang dia untai dalam kehampaan hubungannya dengan Bimo. Yang memabukkan Tristan dan membuatnya pergi. Liv jauh merasa lebih bersalah.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pagi ini …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana kamu Tristan? Kenapa kau kirimkan bunga itu untukku? Kenapa? Kenapa harus sekarang? Kenapa kau bangkitkan lagi asaku? Disaat semuanya sudah lebih mudah aku terima, semua rasa bersalah dan penyesalan? Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang-ulang pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benak Liv. Dan tidak ada satupun jawaban. Tidak satupun. Dan Liv merasa lelah. Tidak ingin memikirkannya. Tapi hatinya tetap saja bertanya-tanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersadar Liv dari lamunannya. Dan menoleh kearah suara tersebut …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak dia berpikir dimana ia pernah melihat muka tirus itu. Angannya melayang kebelasan tahun yang lalu. Laki-laki pendiam dikelasnya. Laki-laki yang tiga tahun lalu memanggilnya Cinta. Tristan … &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv? Masih ingat aku kan? Tristan, Liv’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tangan Tristan terjulur. Liv ragu-ragu menyambut genggaman tangan Tristan. Semuanya terlalu mengejutkan baginya. Pertama bunga mawar merah. Sekarang pertemuan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Apa kabar Liv?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Baik. Kamu?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Baik’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka berdua terdiam. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Terlalu terbawa oleh suasana. Entah apa. Semua ini terasa membingungkan Liv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ding&lt;br /&gt;‘Liv?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu kata. Terasa menggetarkan sukma. Sejak hadirnya mawar merah dan pertemuan tak disengaja mereka, Liv merasa ada sedikit kehangatan melingkupi hatinya. Namun juga sedikit kerisauan tentang yang dia rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Hi. Selamat pagi. Apa kabar?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Baik, Liv. Kamu?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Baik. Dimana sekarang?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Masih menikmati udara berpolusi yang juga kau hirup cinta’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm … jadi dia masih saja Cinta bagi Tristan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Kemana saja kamu tiga tahun ini?’ &lt;/em&gt;Ragu-ragu Liv bertanya. Tapi sungguh dia mendamba jawabnya. Di satu sisi ingin tahu jika luka tercipta tiga tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Seperti biasa, pekerjaan membawaku kemana-mana. Tapi kali ini aku pulang. Aku lelah Liv’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lelah. Tapi kenapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Pulang? Maksudnya tidak akan pergi-pergi lagi?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Liv menghianati logikanya. Menjerit ingin mendengar jawaban bahwa Tristan akan tetap menghirup udara yang sama dengannya. Berharap rentangan jarak yang ada mendekatkan mereka. Tapi logika Liv tahu. Semua telah berlalu. No turning back. Dia sudah membuat keputusan tiga tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Mungkin nanti Liv. Aku terlalu lelah sekarang’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv tidak ingin bertanya. Kenapa dia lelah? Tapi sungguh merindukan jawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Aku lelah berlari Liv. Semua ini hanya membawa kepedihan. Lari darimu. Disaat aku justru ingin mendekat dan mendekapmu'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv merasa risau. Semakin dia berjuang melawan perasaannya, semakin kuat hatinya ingin meraih Tristan. Ternyata sia-sia semua perjuangan selama tiga tahun ini. Tiga tahun yang lalu Liv memilih cinta yang membebaskan. Pedih memang. Tapi bukankah kata orang cinta tidak harus memiliki. Tapi semua ini sungguh menyesakkan. Kenapa? Seribu kenapa berkecamuk di hati Liv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun Liv memilih cinta yang membebaskan. Liv tidak ingin menyakiti dua laki-laki yang dia kasihi. Tepatkah keputusannya? Liv sungguh tidak tahu. Yang pasti Liv merasa sakit. Dan Bimo pergi. Tristan menjauh. Hhhh …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inginku&lt;br /&gt;bertanya&lt;br /&gt;kenapa cinta&lt;br /&gt;selalu saja&lt;br /&gt;menyapa&lt;br /&gt;dalam &lt;br /&gt;ketidakpastian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata orang &lt;br /&gt;cinta itu indah&lt;br /&gt;tapi kenapa&lt;br /&gt;ada sungai tangis&lt;br /&gt;di dalam dada&lt;br /&gt;kala cinta&lt;br /&gt;datang menyapa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih terlihat risau. Tristan semakin terombang-ambing oleh perasaannya. Apa yang terjadi tiga tahun lalu masih terpatri lekat di benaknya. Sakit yang dia rasakan. Semua langkah yang dia ambil untuk mengenyahkan sakit itu. Tapi melihat Liv terlihat begitu risau dengan semua ini, membuat hatinya terasa pedih. Sungguh dia tidak ingin kesedihan mendekati Liv. Entah bagaimana dia harus merebut hati perempuan yang begitu dia kasihi? Yang sungguh dia rindukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv teringat perjumpaannya dengan Tristan beberapa hari lalu. Liv masih menemukan tatapan itu di mata Tristan. Tatapan yang Liv yakin juga terpancar dari matanya. Liv menarik nafas panjang. Kenapa semua ini harus menjadi serumit ini. Kenapa kau tidak bisa begitu saja berlari kepelukan orang yang kau cintai? Liv tidak ingin merasakan kehilangan orang yang dia kasihi sekali lagi. Liv tidak yakin apakah dia akan kuat jika harus kehilangan Tristan sekali lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;‘Aku akan datang dan menghapus semua risaumu. Tunggu aku’&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tristan menatap Liv yang berdiri di depannya. Ingin rasanya dia merengkuhnya. Mencoba menghilangkan segala kerisauan perempuan yang demikian dia kasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Liv? Percayakah kamu dengan cinta sejati? Tiga tahun lalu kau dan aku memilih cinta yang membebaskan. Tapi sungguh setiap detik hatiku berteriak ingin menggapaimu. Tidak ada satu haripun terlewati tanpa memikirkanmu. Maukah kali ini kau bersamaku memilih cinta yang memiliki?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang terasa hangat di hati Liv. Inilah saatnya. Tiga tahun lalu mereka saling membebaskan namun cinta tetap saja membawa mereka kembali bertemu. Liv ingin melupakan semua kerisauannya. Kali ini dia tidak perlu menyakiti seseorang. Hanya ada Liv dan Tristan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Tristan? Maukah kau berjalan denganku dengan lambat? Menebah semua kepedihan sedikit demi sedikit. Membiarkan semua indah pada waktunya?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liv dalam rengkuhan Tristan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7174401-108607932173608361?l=ceritacherie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritacherie.blogspot.com/feeds/108607932173608361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7174401&amp;postID=108607932173608361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default/108607932173608361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7174401/posts/default/108607932173608361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritacherie.blogspot.com/2004/06/dia-yang-memanggilku-cinta.html' title='dia yang memanggilku cinta ...'/><author><name>thirteen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
