Cherie in the Wonderland
buatmu ...
'Jadi kamu lebih memilih laki-laki yang menganggapmu cantik tapi kamu ada di urutan ke 37 didalam hatinya?'
'Ngga lah. Hell no'
'Nah itu dia, buatku sih tampang bukan yang utama. Aku lebih percaya hati'
'Tapi kan pas pertama kali kamu liat perempuan, pasti yang kamu liat tampangnya?'
'Iya sih. Makanya aku ngga gitu percaya ama cinta pada pandangan pertama'
*****
Vaya menggelengkan kepalanya. Untuk kebeberapakalinya. Seakan mencoba menggebah sesuatu yang tidak kasat mata. Sungguh potret pernikahan terburam yang pernah dia lihat. Dengan pengantin wanitanya terlihat menangis. Bukan, bukan menangis karena bahagia sebagaimana mempelai wanita biasanya. Menangis yang menangis. Jeritan kesedihan dalam bentuk air mata. Vaya menggelengkan kepalanya.
*****
Hidup selalu terasa sangat mudah buat Vaya. Lahir dari keluarga yang berkecukupan. Anak tunggal. Sekolah di sekolah berstandar internasional. Lulus. Pekerjaan yang menyenangkan di perusahaan keluarga menunggu. Lalu Eka masuk kedalam kehidupannya. Laki-laki yang juga menikmati hidup mudah seperti yang dirasakan Vaya. Semua seperti dongeng. Putri cantik dan pangerannya.
Jadi meskipun sangat membahagiakan, kabar mengenai rencana pernikahan mereka tidaklah terlalu mengejutkan. Karena sudah semestinya. Sebagai klimaks yang indah dari hal-hal indah lainnya yang dinikmati mereka berdua dari detik pertama mereka membuat mata dan melihat dunia. So that they can happily live ever after. Persis seperti buku-buku dongeng yang dibaca Vaya di masa kecilnya.
Anehnya Vaya merasa gamang. Entah kenapa. Cincin bermata berlian yang diberikan Eka untuknya terasa mencengkeram. Hatinya terasa sesak. Semua ini terasa terlalu mudah. Terlalu indah. Hingga menakutkan. Vaya menghela nafas panjang. Belum pernah dia merasakan perasaan seperti itu hingga ia bertemu … Banyu!
*****
Banyu. Laki-laki yang dikenalnya di acara reuni SMAnya. Fotografer yang dipercaya panitia reuni untuk mengabadikan segala euphoria dan ekstasi kebahagiaan mereka bertemu teman lama. Laki-laki yang terlihat tidak pas berada diantara segala kemewahan pesta reuni mereka. Dengan pakaian serba hitam Banyu terlihat begitu sendiri di antara kemeriahan warna gaun pesta para tamu. Tapi Vaya tahu laki-laki itu telah mencuri hatinya.
Tapi laki-laki itu sungguh tidak mudah didekati. Perkenalan mereka hanyalah tangan Vaya menjabat tangan dingin Banyu. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak ada percakapan hangat sebagaimana dua orang yang baru berkenalan. Kedua tangan mereka terlepas. Banyu kembali ke dunianya sendiri. Dan Vaya merasa kehilangan sesuatu. Entah apa.
*****
Tapi kemudian semuanya terasa terkubur oleh keriuhrendahan persiapan pernikahannya dengan Eka. Pernikahan yang begitu dinantikan semuanya. Semua ingin ikut memastikan bahwa pernikahan mereka akan menjadi satu pesta pernikahan yang tidak akan terlupakan. Pernikahan yang yang baru akan digelar tahun depan. Akan tetapi sudah menciptakan kesibukan yang demikian luar biasa bagi keluarga Eka dan Vaya.
Vaya ikut berbahagia melihat sinar yang terpancar dari muka kedua orangtuanya dan orangtua Eka. Tapi dia tahu ada yang salah dengan hatinya. Kebahagiaan yang dia rasakan terasa semu. Palsu. Hatinya sedang rusuh terganggu. Dan Vaya tahu jawabnya ada pada Banyu.
*****
Tapi kata orang jarak menciptakan rindu. Menciptakan gelenyar damba yang menggetarkan sukma. Vaya harus akui itu. Deburan jantungnya tiap kali bayangan Banyu melintas di depan matanya. Sungguh Vaya menginginkan laki-laki itu. Tapi patutkan hal itu? Dia yang akan segera menikah, merindukan laki-laki lain?
Bahagia. Akhir-akhir ini bahagia menjadi satu kata yang begitu asing di telinga Vaya. Semua kesenangan, ketersediaan yang mengelilingi dirinya tidak menciptakan bahagia. Dan Vaya ingin merasa bahagia. Menggebah semua perasaan, yang entah apa, yang sedang melingkupi dirinya. Kalau bahagia itu ada pada Banyu, salahkah dia merindukan laki-laki itu?
*****
Banyu. Vaya tidak tahu apa yang membuatnya tertarik dengan Banyu. Sungguh tidak tahu. Tapi nama laki-laki itu berulang-ulang muncul di benaknya. Hampir terdengar seperti mantra di hatinya. Vaya tahu dia harus melakukan sesuatu.
‘Dinda, boleh aku tahu gimana caranya menghubungi fotografer yang meliput reuni kita dulu?’
‘Of course my darling, mau bikin acara ya? Good for you untuk memilih Banyu. Fotografer yang hebat. Sebentar ya?’
Nomer telepon Banyu sudah di tangan. Tapi Vaya masih berkontemplasi apa yang sebenarnya dia inginkan. Berkenalan dengan Banyu. Mencari tahu soal laki-laki itu. Atau ..? Yang Vaya tahu dia tidak suka merasa penasaran.
*****
‘Bisa saya berbicara dengan Bapak Banyu?’
‘Saya sendiri. Dengan siapa saya berbicara?’
‘Saya Vaya. Saya memerlukan bantuan Bapak untuk membuat foto-foto untuk port folio perusahaan saya. Bisakah kita bertemu untuk membicarakannya?’
Dan begitu saja janji tercipta. Pertemuan untuk membicarakan port folio perusahaan. Dan memuaskan penasaran.
‘Panggil saya Banyu’
‘Kalo begitu kamu bisa memanggilku Vaya’
‘Vaya’
‘Banyu. Oke Banyu.’ dan mereka berjabat tangan. Sepercik bahagia tercipta di hati Vaya. Dan muncul sebagai senyuman di bibir merahnya.
*****
Dan pertemuan-pertemuan berikutnyapun tercipta. Masih berhubungan dengan pekerjaan tapi Vaya semakin tahu bahwa Banyu adalah laki-laki yang dia impikan. Yang dia impikan. Bukan yang sesuai dengan impian orangtuanya atau sesuai dengan impian yang diciptakan orang tuanya di dalam benaknya. Vaya menyimpan setiap kenangan pertemuannya dengan Banyu di satu sisi hatinya. Sisi hati yang mengenal bahagia. Hmmm …
Vaya semakin menyadari bahwa hampir sebagian besar jalan hidupnya berjalan begitu mudah hingga dia tidak pernah merasa perlu berhenti dan mengucap syukur. Semua terasa sudah semestinya. Sudah semestinya ada. Tapi keakrabannya dengan Banyu membawa perspektif yang lain dalam hidupnya. Bahwa bahagia tidak bergantung pada materi, kemewahan, ketersediaan yang selama ini melingkupinya.
Vaya masih ingat jelas tertawa lebar anak jalanan yang bahagia mendapatkan pelajaran di ruangan kelas sederhana. Salah satu hal indah yang diperkenalkan Banyu padanya. Bahwa hanya orang yang mampu bersyukurlah yang dapat merasakan bahagia. Vaya tahu selama ini dia telah menikmati begitu saja semua yang dia punya tanpa pernah benar-benar memaknai semuanya. Dan hatinya semakin terjerat. Tersipu karena pandangan mata Banyu.
*****
Hubungan mereka semakin dekat. Bahkan saat proyek pembuatan port folio terselesaikan. Pertemanan. Begitu Vaya menyebutnya. Walaupun jelas itu bukan yang diinginkannya. Tapi paling tidak Vaya bisa menikmati banyak hal bersama Banyu.
‘Asyik ya?’ kata Banyu yang duduk disampingnya, ‘Mereka tidak khawatir air kotor itu akan membawa segala kuman penyakit, yang mereka tahu mereka sedang menikmati kegembiraan.’ Saat itu mereka berdua sedang duduk di tepian kali kotor memandangi anak-anak kecil yang asyik berenang.
Vaya melayangkan pandangannya kekali berair kotor di depannya. Ini adalah perjalanan kesekian yang dia lewati bersama Banyu. Menikmati pemandangan yang selama ini terlewatkan oleh mata Vaya. Dengan Banyu, Vaya belajar mengenai hidup. Bahwa tidak semua orang memiliki segalanya seperti dirinya. Dan yang terpenting belajar tentang bahagia.
Belajar dari tawa riang anak-anak yang berenang di kali berair kotor. Gelak tawa dua anak kecil yang berdiri di dalam gerobak sampah yang ditarik sang ayah. Senyum malu-malu seorang anak kecil di gendongan ibu yang berjualan di pinggir jalan. Dan Vaya berbahagia bersama mereka. Vaya mulai mengenal arti bahagia. Satu kata yang selama ini dia kenal melalui banyak hal yang dia punya.
*****
bersambung
(in a loving memory of a friend I miss so dearly)